Press "Enter" to skip to content

Tampil Dalam Dies Natalis, Sanggar Sundlewood Kenalkan Sumba

Garuda-News.ID – Yogyakarta Sanggar tari  merupakan sarana, wadah, ananda untuk ber-kreatifitas dan mengenal tari-tarian adat dari berbagai daerah yang dikomplikasikan serta dimodifikasi dengan tujuan  untuk mengenal serta mempopulerkan tarian tradisional (budaya). Di Jogjakarta sendiri beragam sanggar tari pun telah lama lahir.

Kota Jogjakarta yang merupakan sebuah kota di Indonesia yang kental dengan nilai budaya dan adat – istiadatnya telah berhasil melahirkan beragam sanggar tari tradisional baik sanggar tari tradisional asli Jogja  maupun sanggar tari di luarnya.

Salah satu dari kesekian sanggar tari yang cukup dikenal di Jogjakarta dan berasal dari luar adalah Sanggar Tari Sundlewood. Sanggar tari ini berasal dari Pulau Sumba, salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur yang juga merupakan salah satu destinasi eksotis di Indonesia.

Menyadari betapa seni tari sangatlah kental dengan nilai-nilai budaya dan adat – istiadatnya,  maka pada Jumat, 25 Mei 2018, Sanggar Sundlewood diundang oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Jogjakarta  untuk berpartisipasi dalam rangka memeriahkan dies natalis PMKRI Jogja ke-71.

Adapun Sanggar Sundlewood adalah salah satu sanggar dari kesekian sanggar yang ikut serta memeriahkan dies natalis PMKRI Jogja.

Ketika ditemui di Margasiswa PMKRI St. Thomas Aquinas Cabang Jogjakarta, mantan Ketua Organisasi Sundlewood, Ayub Dinga Marawali menyampaikan komentarnya terkait keberadaan Organisasi / Sanggar Tari Sundlewood.

Kepada wartawan media Garuda-News.ID, pria yang akrab disapa Ayub itu megatakan bahwasannya Organisasi Sundlewood sudah lahir sejak tahun 2005 di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan berada di bawah naungan Kampus UKDW (Universitas Kristen Duta Wicana) pada tahun 2007.

“Pembentukan Organisasi / Sanggar tari Sundlewood adalah memiliki tujuan untuk menyatukan generasi yang berasal dari Pulau Sumba – NTT. Organisasi ini merupakan salah satu organisasi penyatu Sumba Raya (Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya red) yang notabene memiliki keanekaragaman budaya, adat – istiadat serta puluhan bahasa yang berbeda,” papar Ayub.

Ia percaya bahwa kelahiran sanggar tari dalam tubuh Organisasi Sundlewood mampu memperkenalkan keanekaragaman budaya yang terdapat di salah satu pulau terindah di dunia itu.
Pada tempat dan situasi yang sama, Anggun Lalo selaku penari Sanggar Sundlewood, turut menyampaikan pendapatnya. Wanita berdarah Sumba itu menuturkan bahwa ia mengenal Organisasi Sundlewood di Universitas Kristen Duta Wicana.

“Alasan saya bergabung dengan Organisasi Sundlewood adalah karena saya merasa bahwa Sundlewood di Jogja telah menjadi rumah kedua saya. Saya bisa berdinamika bersama saudara-saudara seasal dan saya merasakan situasi sama seperti di kampung halaman saya,” tukas salah satu penari Sanggar itu.

Mahasiswa Tekhnik Arsitektur itu  menambahkan, dalam pementasan tari, kami menampilkan berbagai jenis tari dari keempat kabupaten di Pulau Sumba dan malam hari ini kami memperkenalkan dua tarian yang berasal dari Sumba Barat yang salah satunya bermakna penyambutan terhadap kepulangan pria dari perang.

Ketua panitia dies natalis Perhimpunan Mahasiswa Katolik St. Thomas Aquinas Cabang Jogja, Tus Benediktus sangat mengapresiasi Sanggar Tari Sundlewood yang tampil memukau pada dies natalis PMKRI Jogja kali ini.

“Saya sangat mengapresiasi kawan-kawan penari maupun pemusik Sanggar Tari Sundlewood malam ini. Sungguh energik dan luar biasa” tukas Tus.

Di akhir-akhir percakapan, Tus Benediktus juga menyampaikan terimakasih yang berlimpah kepada rekan – rekan panitia serta terlebih khusus untuk semua tamu undangan yang sempat hadir untuk memeriahkan dies natalis kali ini.


Laporan Wartawan Biro Yogyakarta : Gerry Tojong.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *