Press "Enter" to skip to content

PROFESOR MACHFUD MACHMUD KORBAN ETIKA & MORAL POLITIK TIDAK BERADAB

BANTEN, Garuda-News.ID – Profesor Machfud MD (Machmud) patut mendapat hormat dan apresisi yang tinggi, karena telah memberi pelajaran politik bagi segebap warga bangsa Indonesia untuk selalu dapat melebihkan bagi kepentingan orang banyak. Begitulah moral yang ideal dalam ketauladanan bagi segebap anak bangsa guna mengelols potensi bangsa dan negara demi dan untuk kesejahteraan bersama dalam bentuk lahir maupun bathin.

Kebesaran hati Machfud MD memberi maaf patut diapresiasi tersebdiri. Bukan hanya sebagai guru besar bagi yang subgguh besar bagi perguruan tinggi. Tetapi juga yang telah menghantar seorang alumni UII, yang sangat membanggakan, karena telah lahir sosok seorang negarawan. Dan kebanggaan saya adalah, beliau mengutamakan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi.

Masalahnya bagi masyarakat yang terlanjur tahu bila Profesor Machfud MD sudah digadang jadi calon Wakil Presiden yang akan menjadi pendamping Joko Widodo dalam pencalonan dirinya, jadi kecewa. Soalnya bukan karena Machfud MD tidak jadi calon Wakil Presiden, tetapi santernya pemberitaan itu jadi urung, padahal persiapan Profesor Machfud MD sudah oke semua. Mulai dari syarat administrasi hingga pembuatan pakaian pun sudah siap.

Dalam situasi dan kondisi bungah seperti itulah, jadi aneh adanya serangan terhadap Profesor Machfud MD yang menyatakan bahwa beliau bukan warga Nahdatul Ulama, bahkan secara kelembagaan pun Nahdatul Ulama mengisyaratkan hendak menarik dukungan kepada calon pasangan Presiden dan Wakil Presiden yang tidak berasal kalangan Nahfatul Ulama.

Jadi protes warga masyarakat dalam proses pemilihan calon Wakil Presiden yang dilakukan Joko Widodo adalah sikap pengabaian etika dan moral. Bagaimana mungkin Machfud MD yang sudah diminta menpersiapkan segalanya itu, tiba-tiba urung dipenghujung waktu pengumuman dilakukan ?

Bayangan yang ada dalam benak setiap warga masyarakat kita seperti saya misalnya — sebagai rakyat kebanyakan–jelas bisa lebih konyol lagi bila menghadapi janji-janji seperti apa saja yang kelak akan dinyatakan atau dikatakan oleh Joko Widodo bila terpilih kembali menjadi Presiden Indonesia.

Pengabaian terhadap tata etika dan moral seperti itulah ysng mengganjal dalam proses penunjukan Calon Wakil Presiden yang hendak bertatung dalam Pilpres 2019 ini. Sehingfa nenjadi cedera dan cacat, karena telah melukai hati rakyat banyak seperti saya.

Terlepas dari keculasan elit politik yang makin suka mengklaim atas nama umat dan agama, toh Joko Widodo sendiri sudah sesumbar pula agar politik harus dipisahkan dari agama.

Lalu dimana konsistensinya dari pernyataan itu ? Artinya rakyat seperti saya selalu merasa dikadali, lantaran elite politik dan para rezim penguasa cuma ingin terus menang belaka. Tanpa pernah mau perduli dengan suara hati rakyat.

Sejatinya, Pilpres itu sepatutnya tetap mempunyai muatan nilai pendidikan politik yang mendidik. Sikap elegan dan mengutamakan etika dan moral harus senantiasa ditularkan pada semua orang. Tak hanya bagi warga bangsa Infonesia, sebab perhelatan di negeri kita juga menjadi perhatian dunia.

Itulah sebabnya banyak orang jengah ketika Joko Widodo mengaku: “saya Pancasila”. Sebab Pancasila seperti keimanan bagi setiap warga bangsa kita, Indonesia. Tidak dipamerkan atau disesumbarkan, tapi harus dan mutlak untuk diwujudkan dalam sikap dan perbuatan yang nyata.(**)

Banten, 16 Agustus 2018

            *Jacob Ereste*
Atlantika Institut Nusantara

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *