Press "Enter" to skip to content

Filterisasi Anak Dari Kejahatan Pornografi Di Internet

Garuda-News.ID Muntok – Pesatnya kemajuan teknologi telepon pintar, ternyata seperti pisau bermata dua, disatu sisi adalah sebagai bentuk atau tanda dari majunya zaman. Sementara disisi sebaliknya, dapat berekses negatif. Terutama pada anak dibawah umur.

Pantauan awak media GN siang tadi, Minggu, 22/04, di salah satu tempat ngopi di kota Muntok menyatakan demikian.

Sebut saja bocah tersebut sebagai Budi, usia sekitar 13 tahun, dan masih duduk di bangku sekolah menengah di kota tersebut. Berada di tempat dan jam yang mengundang tanya. Yakni, Ia dan teman sebayanya berada di kedai kopi orang dewasa. Hanya untuk mendapatkan akses internet.

Kemudian, dalam tanya jawab yang terbilang singkat, Ia mengutarakan alasannya untuk berada di dalam tempat ngopi orang dewasa tadi. “ Kalau saya kesini pak, cuma untuk dapat wifi gratis aja, kan sambil main mob*** le***** aja. Tanggung abisnya, trus main ngegrup sama temen-temen kan seru pak,” ungkapnya, sambil memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan awak media.

Kemudian, redaksi coba menanyakan pada seorang pelayan kedai kopi tersebut soal keseharian beberapa anak-anak singkong tadi di tempat usahanya. “Yah paling cuma berapa jam aja sih, sebelum disusul sama orangtua mereka,” jawab Asih, salah satu pelayan.

Bagaimana sebenarnya hal ini dapat terjadi? Dan apa pendapat pihak terkait, dalam hal ini adalah KPAD Provinsi Babel, tentang anak dibawah umur yang sudah kecanduan internet? Untuk itu redaksi kali ini coba mengirimkan draft pertanyaan dalam pesan instan whatsapp pada Komisioner Pornografi dan Cyber Crime KPAD Provinsi Babel, Yuli Sistriani. Dan berikut petikannya.

“Dulu bisa dibilang internet hanya untuk kaum terpelajar namun kini semua orang dapat mengaksesnya kapan dan dimanapun dia mau. Media Sosial Dari Facebook, Twiter, Instagram bahkan game on line yang selalu memiliki gravitasi atau magnet tersendiri untuk selalu ingin tau setiap saat,” tulisnya, Minggu malam, 22/04.

Dikatakannya, ketika berjalan di sore atau malam bahkan pagi hari, kemudian (coba) berkunjunglah kesalah satu warung internet (warnet) yang dekat dengan rumah. Anda dapat denngan mudah menemukan anak SD, SMP atau SMA yang cekikikan dengan menujuk kelayar monitor.

“Menurut situs Word Stats jumlah pengguna internet di Indonesia 132.700.000. Jumlah terbesar di asia tenggara. Indonesia berada di peringat kelima pengguna internet dunia. Sesuai peringkat Internet World Stats, Indonesia hanya kalah dari Tiongkok, India, Amerika Serikat dan Brasil. Dari 263,5 juta penduduk Indonesia pada 2017, sebanyak 132,7 juta adalah pengakses internet (per 30 Juli 2017), dengan penetrasi sebesar 50,4 persen. Sementara pertumbuhan pengakses internet Indonesia sejak tahun 2000 hingga 2017 tumbuh luar biasa, yakni sebesar 6.535 persen. (Dikutip dari zonautama.com),” katanya lagi.

Ia juga menambahkan, bahaya terbesarnya internet bagi anak adalah tidak adanya filterisasi yang mengimbangi atas informasi yang merusak. Dimana anak dapat dengan mudah memperoleh segala bentuk informasi, dari konten pornografi sampai cara mengetahui system keamanan dari computer itu sendiri.

“Mudahnya informasi yang didapat dengan mengaksesnya dimanapun dan kapan pun mereka mau. Jika tidak dirumah mereka dapat ke warung warung internet (warnet) yang bertebaran didaerahnya. Dengan menyisikan uang jajan mereka dengan mudah keluar masuk warnet dengan durasi waktu yang berjam jam,” kata dia.

Dengan mudahnya anak mengakses dunia maya baik media sosial ataupun game online yang sejatinya ada konten pornografinya baik dalam aplikasi ataupun hanya iklan yang sekedar lewat ketika anak sedang mengerjakan tugas sekolah di komputer yang tersambung internet ataupun sekedar memainkan ponsel pintarnya, dan kita tau bahwa penyaringan sangatlah lemah dalam server. “Sehingga dirinya menghimbau kepada orang tua untuk mengikuti perkembangan teknonogi dan informasi yang ada sehingga orang tua tau, apa saja konten yang anak buka setiap harinya di histori computer atau ponsel pintar yang di gunakan anak.

Apabila kedapatan anak mengakses gambar atau video porno hendaklah ajak bicara baik baik (tidak dengan nada tinggi dan marah marah) agar anak dapat mengetehui kesalahan dan tidak mengulangnya kembali,” pungkasnya.(*)

sumber : KPAD Provinsi Babel

reporter GN : biro bangka barat

penulis/editor : LH