Press "Enter" to skip to content

Menggugat Industri Pariwisata di Taman Nasional Komodo

Garuda-News.ID Yogyakarta – Aliansi Tanah Dading adalah sebuah aliansi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang hadir untuk menyuarakan hak-hak rakyat, Kamis 24/05.

Pada Rabu, 23 Mei 2018 bertempat di Hall STPMD “APMD”, Aliansi Tanah Dading kembali melakukan diskusi dengan Tema : Menggugat Industri Pariwisata di Taman Nasional Komodo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Diskusi tersebut dipandu langsung oleh Ignasius Jaques Juru dengan peserta yang hadir kurang lebih sekitar 30 orang, baik individu atau perorangan maupun organisasi turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Ketika dikonformasi oleh wartawan media Garuda-News.ID, Igansius Jaques Juru selaku pemantik diskusi itu menuturkan bahwa pembangunan pariwisata di Labuan Bajo berpijak pada tata ekonomi politik neolib.  Akibatnya, dalam konteks ekonomi, pariwisata hanya ditopang oleh kekuatan investasi tanpa sokongan kekuatan ekonomi kolektif masyarakat.

“Dalam konteks politik, logika pembangunan yang ada telah mendepolitisasi proses kebijakan publik yang berlangsung sehingga tidak ada kontrol popular terhadap urusan-urusan pariwisata yang strategis. Pariwisata terlalu sering direduksi sebagai urusannya investor, birkorat dan para ahli,” kata Peneliti PolGov (Politics and Government), departemen politik n pemerintahan. Fisipol Universitas Gajah Mada itu.

Selain itu, lanjutnya, dari aspek institusional,  pemerintah daerah dalam hal ini pemda Kabupaten dan parlemen lokal sering terkunci pada kewenangan yang terbatas khususnya berkaitan dengan penentuan kebijakan terkait objek-objek wisata yang strategis.

“Soal-soal di atas perlu direspon dengan mendorong agenda alternatif dalam bentuk design pembangunan transformatif yang berbasis pada kekuatan ekonomi kolektif yang produktif,” tandas Ryan.

Sementara itu, pasca kegiatan berlangsung Ernes Lalong juga turut menyampaikan komentarnya terkait Aliansi Tanah Dading khusunya soal diskusi yang menyandang Tema : Menggugat Industri Pariwisata di TNK itu.

Mahasiswa semester akhir Prodi Ilmu Pemerintahan itu menjelaskan bahwa aliansi tersebut sangat serius  dalam mengkonsilidasi gagasan, khususnya bagi mahasiswa yang sedang berdomisili di DI Yogyakarta.

Ernes menuturkan, pariwisata Labuan Bajo sebagai penanda yang segara diisi oleh gagasan kita, untuk dijadikan tindakan ke depannya.

“Sebagai peserta dan sebagai orang Manggarai,  kita tidak menolak pembangunan, tetapi sifatnya yang eksploitasi itu yang di tolak,” tukasnya.

Hal yang perlu diperhatikan oleh kita sebagai citizhensip dalam pembangunan adalah,  tidak ada penyingkiran warga, tidak ada marjinalisasi.

“Dan kita sebagai intelektual yang sifatnya organik harus engaging atau terlibat dengan berbagai gerakan, untuk mengisi krisis yang ada,” tutup calon Sarja Ilmu Pemerintahan itu. (*)


Laporan wartawan: Gerry Tojong

edited : dby

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *