Press "Enter" to skip to content

KPAI Dan KPPPA Mendorong Pembangunan Jembatan Sementara Bagi Anak-anak Desa Bonto Matinggi   

Garuda-News.ID Jakarta – KPAI menerima informasi bahwa puluhan anak di seberang sungai Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu, kabupaten Maros, Sulawesi selatan harus berjuang menyebrang sungai dengan arus yang cukup deras untuk berangkat dan pulang sekolah setiap harinya. Jika musim hujan, air sungai naik dan arusnya juga semakin deras, sehingga membahayakan jiwa anak-anak yang menyebrang untuk bersekolah.

Atas dasar informasi tersebut, maka KPAI berkoordinasi dengan Elvi Hendrani, Asisten Deputi Bidang Pendidikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) dan kami sepakat untuk sama-sama meninjau lokasi. KPPPA menurunkan tim sebanyak 5 orang, termasuk 2 fasilitator Sekolah Ramah Anak (SRA) di Maros dan Makassar. Peninjauan lapangan dilakukan pada 27-29 April 2018.

Peninjauan ke lokasi adalah untuk: (1) memastikan jumlah anak sekolah yang setiap harinya, minimal 2 kali harus menyebrang sungai, (2) mendengarkan suara anak-anak, termasuk kondisi sungai yang diseberangi setiap hari, (3) memastikan rencana pembuatan jembatan dengan menggunakan dana desa, termasuk perkiraan waktu selesainya proses pembangunan.

Hasil Pengawasan

1.Jumlah anak yang setiap hari menyeberang sungai untuk bersekolah mencapai lebih dari 30 anak, terdiri dari siswa SD dan SMP. 2. SD terdekat adalah SDN 30 Inpres Gantarang, Desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu yang berjarak sekitar 3 kilometer dari pinggir sungai. Gedung SD negeri ini juga cukup memprihatinkan, ada 2 ruang kelas yang rusak, namun tak kunjung mendapat bantuan perbaikan, padahal sudah cukup lama rusaknya.

3. Anak-anak yang di wawancarai saat pengawasan menyampaikan rasa takutnya setiap kali akan menyeberang sungai, apalagi jika air sedang tinggi dan arus cukup deras, mereka harus naik ban yang diatasnya diberi papan dan duduk diatas papan, kemudian ban akan ditarik oleh anak lain di seberang sungai. 4. Ketika air agak surut, anak-anak tersebut bisa menyebrangi pinggiran bendungan di sungai tersebut (yang lebarnya sekitar 40 cm dan panjang 130 meter. Anak-anak mengatakan bahwa saat menyebrang dengan sisi pinggir bendungan tersebut arusnya terasa cukup deras dan butuh keseimbangan badan.

5. Ada orangtua siswa yang mengaku pernah terjatuh saat menyeberang dengan menggunakan pinggir bendungan dan terbawa aus, padahal sungainya peuh dengan batu-batu. Karena, anak-anak yang masih SD rata-rata diantar ibunya saat ke sekolah, sebab sang ibu khawatir keselamatan anak-anaknya saat menyebarang sungai tersebut.

6. Tim juga mendapatkan informasi bahwa banyak siswa tertinggal mengikuti pelajaran saat musim hujan tiba di daerah tersebut, akibatnya banyak anak yang mengalami kesulitan mengejar ketertinggalan pembelajaran di kelasnya. Hal ini terntu sangat merugikan anak-anak tersebut.

7. Di lokasi ditemukan pondasi jembatan di kedua sisi sungai, ternyata pondasi itu dibangun sejak 2015, namun tidak dilanjutkan lagi hingga 2018, sehingga pembangunan jembatan penyebarangan memang tidak rampung pembangunannya hingga sekarang.

8. Menurut pihak pemerintah kabupaten, pihak desa tidak pernah melaporkan permasalahan pembangunan jembatan yang belum rampung tersebut. Sehingga pemda juga tidak mengetahui bahwa ada aaak-anak sekolah yang harus bertaruh keselamatan saat berangkat ke sekolah setiap harinya.

Rekomendasi

Pertama, KPAI mengapresiasi KPPPA yang sudah cepat tanggap dalam menangani permasalahan ini dan berupaya memastikan perlindungan dan keselamatan anak-anak di desa Bonto Matinggi, Kecamatan Tompo Bulu, kabupaten Maros, Sulawesi selatan, bahkan mengajak KPAI meninjau langsung ke lokasi.

Sebagai lembaga pengawas perlindungan anak, KPAI mendorong pihak KPPPA untuk terus berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten, terutama Dinas PPA Kabupaten Maros dalam upaya mengawal pembangunan jembatan penyebrangan di desa tersebut sampai selesai, demi keselamatan dan upaya pemenuhan hak-hak anak di desa Bonto Matinggi.

Kedua, KPAI mengapresiasi kepdeulian dan inisiasi masyarakat dalam penggalangan dana pembangunan jembatan melalui kitabisa.com, terpantau pada pukul 09.21 wita (25/4) sudah mencapai Rp 188.633.247 atau 94 persen dari total target Rp 200 juta. Jumlah total donasi, sebanyak 655 orang, tersebar dari seluruh Indonesia.

Sayangnya, dana ini ditolak oleh pemerintah kabupaten Maros untuk membangun jembatan yang dimaksud dengan alasan sudah dianggarkan dalam dana desa sebesar Rp 350 juta pada APBD perubahan tahun 2018. Kalau sudah dianggarkan APBD atau dana desa memang tidak bisa menerima dana masyarakat.

Namun, mengingat proses pembahasan perubahan yang masih memakan waktu dan pembangunan jembatan yang juga butuh waktu yang tidak singkat, padahal anak-nak setiap hari masih harus menyeberang sungai saat menuju dan pulang sekolah, maka sambil menunggu jembatan jadi beberapa bulan lagi, KPAI mendorong Pemda Maros menyetujui pembangunan jembatan sementara, bisa menggunakan bambu yang banyak terdapat di desa Bonto Matinggi.

Pembiayaan bisa diambil dari sebagian hasil sumbangan masyarakat yang sudah terkumpul. Keselamatan anak-anak dan kepentingan terbaik bagi anak harus dikedepankan dalam permasalahan ini. Untuk itu, KPAI kan segera bersurat kepada Bupati Maros menyampaikan rekomendasi dari hasil pengawasan. (*)

 

sumber : KPAI

GN Biro Jakarta

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *