Press "Enter" to skip to content

KOPRI PB PMII : Saatnya Perempuan Berperan Menjaga Perdamaian Pasca Pemilu

JAKARTA
GARUDA-NEWS.ID

KOPRI PB PMII : Saatnya Perempuan Berperan Menjaga Perdamaian Pasca Pemilu

Jakarta – Aktivis mahasiswa yang bernaung di bawah Kopri PB PMII serukan agar seluruh masyarakat Indonesia gaungkan perdamaian pasca Pemilu serentak yang dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019 bulan kemarin. Hal ini disuarakan oleh Kopri PB PMII dalam Talkshow dan Buka Bersama di salah satu hotel di Jakarta, yaitu Hotel New Idola pada Jum’at 17 Mei 2019.

Acara ini juga dihadiri oleh perempuan bangsa sekaligus aktifis perempuan Indonesia, yakni Luluk Nurhamidah dan Muhtar Said selaku Tenaga Ahli Komisi Pemilu Umum (TA KPU) RI, serta dihadiri oleh sejumlah mahasiswa dan pemuda yang ada di Jakarta.

Pada saat pembukaan acara tersebut, Sekretaris Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Putri, Nurma Ningsih, mengatakan bahwa acara ini berasal dari inisiatif beberapa kampus seperti dari kampus Universita Nahdlatul Ulama (UNU), Universita Paramedina, Universitas Indonesia (UI), Universitas Nasional (UNAS) dan beberapa kampus yang lainnya.

Dalam talkshow ini KOPRI PB PMII juga mengangkat tema “Perempuan Sebagai Spirit Dalam Pendidikan untuk Menjaga Perdamaian”.

Peran perempuan sebenarnya dilihat oleh Nurma Ningsih bisa menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan perselisihan yang terjadi beberapa hari menjelang pemilu dan paska pemilu ini. Jujur saja Ia katakan, bergesernya pola pikir masyarakat saat ini sebenarnya tak perlu sampai terjadi adanya perselisihan masyarakat apalagi itu sampai terjadi juga pada kaum perempuan.

“Harusnya perempuan ditengah-tengah hal tersebut mampu menjadi spirit dalam pendidikan untuk membangkitkan semangat dan menjaga perdamaian,” kata Nurma Ningsih.

Selain itu, lanjut Nurma Ningsih, ketika masyarakat khususnya perempuan terjadi perselisihan dengan satu sama lain atau kelompok lain dan itu menjadi pemicu hancurnya negara Indonesia, berarti ada yang salah dengan pola pikir perempuan saat ini.

“Padahal perempuan itu memiliki istilah penting dalam bernegara ini, yaitu perempuan adalah tiangnya negara. Oleh karena itu, untuk saat ini yang diperlukan oleh perempuan Indonesia saat ini adalah merefresh kembali akan adanya pendidikan terhadap perempuan sebagai spirit dalam menjaga perdamaian negara ini.

Dilain sisi, Tenaga Ahli KPU RI, Muhtar Said juga memberikan pandangannya mengenai posisi perempuan saat ini. Ia katakan bahwa posisi perempuan saat ini masih dirasa termarginalkan. Ketika termarginalkan perempuan tidak ada lagi di ranah publik.

“Conothnya ketika masyarakat disibukkan dengan politik 01 dan 02 tidak ada rumusan nawacita versi PMII yang diciptakan. Beda dengan Muhammadiyah yang sudah punya nawacita walaupun kita belum tahu siapa yang menjadi presiden nantinya,” kata Muhtar.

Selain itu juga Muhtar, mengajak agar pemuda dan mahasiswa untuk menciptakan ‘gerakan perdamaian’ untuk negeri ini. Sehingga tidak perlu lagi kita mesti turun kejalan untuk berdemo, membakar ban dan lain sebagainya yang sebenarnya itu merugikan kita sendiri.

Dalam kesempatan yang sama, Luluk Nurhamidah yang aktif juga dalam gerakan aktivis perempuan Indonesia, mengemukakan bahwa kondisi politik saat ini memang sangat tidak mudah untuk kita benahi.

Ia tegaskan bahwa dalam Pemilu ini, yang di menangkan oleh siapa dan diakui oleh siapa, harusnya tidak kemudian harus sampai mempropokasi, mengajak masyarakat untuk berdemo di luar, bahkan menyebarkan berita-berita hoax di media sosial.

“Picuan itu bisa di ciptakan dari situasi yang berakibat adu mulut, yang tadinya urusan ringan menjadi urusan suku, ras, agama dan lain sebagainya,” prihatin Luluk.

Luluk juga menghimbau agar perilaku intoleran yang lahir dari perempuan bisa kita menjaga perdamaian dengan melibatkan masyarakat tanpa ada bom molotof dan ribut-ribut di media dan demo terus menerus. Perempuan punya kemamuan, yaitu komunikasi lobi dan mediasi yang mengedepankan prinsip perdamaian.

Usai acara selesai pemuda dengan berbagai kalangan dan latar bekang yang tergabung di oraganisasi PMII pun di akhiri dengan deklarasi damai, dan meraka menyatakan:

1. Kami generasi muda Indonesia mengajak masyarakat untuk tetap tenang, sabar, dan tidak terprovokasi di tengah kondisi politik saat ini.

2. Kami generasi muda Indonesia menyerahkan dan percaya sepenuhnya penyelenggaraan Pemilu 2019 kepada KPU.

3. Kami generasi muda Indonesia sepakat untuk menciptakan situasi yang kondusif demi terwujudnya Indonesia yang, damai, sopan, bermatabat, dan demokratis.**

Penulis : Dani

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *