Press "Enter" to skip to content

Kolonel Inf Romas Herlandes saat menjadi pembicaraan dalam kegiatan Indonesia berdialog 2019

LAMPUNG
GARUDA-NEWS.ID

Bandar Lampung – Indonesia memang kerap kali menjadi buah bibir negara lain lantaran kekayaan alamnya yang melimpah. Seluruh dunia mengetahui bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam, sumber daya energi, pangan, dan pasar dunia yang potensial. Namun, semuanya justru menjadi petaka bagi Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Dandim 0410/KBL Kolonel Inf Romas Herlandes saat menjadi pembicaraan dalam kegiatan Indonesia berdialog 2019 bertempat di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung (FEB Unila), Rabu (4/12/2019).

Kegiatan Indonesia berdialog 2019 dengan tema “Menatap Indonesia Maju, Tantangan Masa Depan Global dan Middle Income Trup” ini diikuti 100 peserta perwakilan mahasiswa seluruh Indonesia.

“Kita harus bangga menjadi warga negara Indonesia. Kekayaan alam Indonesia membuat iri negara-negara di dunia, tapi sumber daya alam justru menjadi petaka buat kita oleh karena itu kita harus waspada,” kata Dandim 0410/KBL Letkol Inf Romas Herlandes saat menyampaikan terkait wawasan kebangsaan, bela negara, cinta tanah air.

Romas mengungkapkan, sesuai dengan apa yang dikatakan Presiden RI Pertama Soekarno pesatnya populasi di suatu negara yang tidak seimbang dengan kesediaan pangan air bersih dan energi, merupakan salah satu sumber pemicu terjadinya konflik baru. Hal itulah yang membuat Indonesia akan jadi perebutan dunia.

“Negara asing memperebutkan Indonesia dengan cara proxy war. Proxy war adalah perang yang salah satu pihak menggunakan pihak ketiga atau kelompok lain untuk berperang melalui berbagai aspek ilmu, politik, sosial, budaya, pertahanan, dan keamanan. Kemudian perang dengan cara tidak langsung yang menyasar integritas bangsa dan negara yang menggunakan senjata soft dan hard power dengan proxy war insurgent, tokoh/pemerintah dan akademisi,” jelas mantan Dandim 0418/Palembang.

Tak hanya itu, sambung Romas, proxy war menghancurkan negara lewat generasi muda Indonesia. Budaya negatif, narkoba, judi dan seks bebas, menguasai pembuatan kebijakan dan legislatif dengan cara menyuap agar menghasilkan aturan undang-undang yang memihak kepentingan asing. Lalu membeli dan menguasai media dan komunikasi di Indonesia serta melakukan penyadapan telekomunikasi menjatuhkan citra Indonesia dengan isu terorisme.

“Tantangan pemuda dalam membangun kebhinekaan di era komunikasi digital seperti unjuk rasa anarkis, pejabat negara dalam kasus korupsi, perang antar suku, pemakaian dan peredaran narkoba, penyebaran berita hoax, pencemaran lingkungan. Oleh karena itu kita harus bisa bijak dan bersatu Karena ancaman ke depan semakin nyata dan perlu antisipasi sejak dini,” pungkasnya. **

Topan

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mission News Theme by Compete Themes.