Press "Enter" to skip to content

Kisah Sedih Seorang kakek Mencari Barang Bekas Demi Kelangsungan Hidup

A C E H
GARUDA-NEWS.ID

Kisah Sedih Seorang kakek Mencari Barang Bekas Dimi Kelangsungan Hidup

Aceh Timur| cengkraman kemiskinan memaksa kakek Abdullah (70) dan dua orang cucu nya sikembar Marlina dan Marleny (16) bekerja keras mencari barang bekas demi sesuap nasi. Ditengah teriknya panas matahari, terlihat bersusah payah mengangkat goni berisi barang bekas/rongsok. setiap pagi berjalan kaki sejuah 4 kilometer menuju rumah bos rongsok di desa Kuta Blang idi rayeuk kabupaten Aceh Timur.(senin 8juli 2019)

“Setiap pagi dari jam 7 saya sudah berangkat mencari barang bekas hingga jam 4 juga ketika orang-orang kantor sudah pada pulang dinas, Rumah saya dekat belakang kantor Bupati Aceh timur ujar Abdullah, kepada wartawan saat dijumpai tengah beristirahat di sebuah Rumah sederhana yang berada di desa Titi Baro Kecamatan Idi Rayeuk.

Dia menuturkan, ia dan dan kedua cucunya berkeliling menyusuri jalan raya di wilayah pusat perkantoran Aceh Timur untuk mencari barang bekas, bahkan sampai juga ke kawasan perkotaan berjalan tanpa menggunakan sendal dan tanpa membawa bekal sebotol Air pun.

Abdullah terpaksa bekerja mencari barang bekas berupa botol karena membutuhkan uang untuk sekedar makan sehari-hari keluarganya. Ia tinggal di sebuah rumah bersama istri dan dua cucu nya yang dirawat sejak kecil,ibu meraka meninggal sewaktu melahirkan mereka. bapaknya entah kemana saya pun tidak tau.

Istri saya Zubaidah (58) pun sekarang tidak bisa berjalan sudah 5 tahun,karna mengalami patah tulang di paha kanannya,pernah saya bawa berobat kedukun patah itu pun hanya sekali dan tidak sembuh akibat keterbatasan ekonomi sehingga kami mengurungkan niat untuk melanjutkan pengobatan.

kedua cucu saya sekarang tidak sekolah karena tidak punya uang buat jajan atau keperluan lainnya ucapnya.

Sementara itu pula yang dilakukannya setiap hari hanya mencari barang bekas untuk kemudian dijual ke pengepul. dalam satu hari terkadang Abdullah mendapat Rp.20.000 atau Rp.10.000 saja,Uang hasil dari menjual rongsok itu selalu diberikan kepada istrinya untuk kebutuhan makan sekeluarga.

kehidupan keluarga sangat memprihatinkan,Selain menjadi tulang punggung keluarganya, Abdullah juga kerap “curhat” mengenai istri yang lagi sakit dan tidak bisa berjalan.

Lajut Abdullah ia berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah kabupaten, Kecamatan dan juga di Gampong,karna selama 60 tahun kami belum mendapatkan bantuan baik itu dana seperti PKH atau semacamnya dan juga rumah kami pun barlantai tanah serta kayu dan sudah mulai lapuk.ujar nya penuh harap.**

Bayu Heri Irawan

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *