Press "Enter" to skip to content

Hantu Radikalisme Dan Monsterisasi Ulama

Garuda-News.ID Moscow – SP3 (Surat Penghentian Penyidikan) Habib Rizieq Syihab ditenggarai menimbulkan polemik baru. Setelah sebelumnya jagat sosial media tanah air, pada kurun waktu 2016-2017 awal diramaikan oleh kasus fake chatt yang super viral tadi.

Ada yang dituduh, ada yang diduga melakukan rekayasa pada kasus super aneh ini. Namun sebelum semuanya terkuak, pihak Kepolisian ujug-ujug memberhentikan kasus ajaib, yang kalau kita ingat, dulu sempat menyeret nama anonymous sebagai tertuduh pengunggah fake chatt tadi, Minggu 17/06.

Nah pembaca, bagaimana sebenarnya mesin propaganda bekerja? Bagaimana sebenarnya karakter ulama dibidik oleh oknum-oknum pemuja kekuasaaan? Di bawah ini, redaksi coba pilihkan artikel yang bersumber dari pegiat sosial media @jackvardan. Monggo disimak.

**

Hantu, makhluk astral tak kasat mata. Perbedaan dimensi dengan manusia terkadang memunculkan pertanyaan besar bahkan ketakutan bagi sebagian orang. Sedangkan monster, identik dengan makhluk besar menyeramkan, membunuh, bahkan menyantap makhluk hidup lainnya atau manusia. Dua nama yang menakutkan dikemas dengan bumbu dan kisah masyarakat urban, menjadi legenda yang menguras imajinasi manusia.

Hantu Radikalisme

Melihat produksi narasi mesin media, dan massivnya pemberitaan seputar radikalisme membuat kita bertanya-tanya, bukan? Saat isu radikalisme muncul selalu sesudahnya ada kebijakan mengagetkan rakyat oleh penguasa. Sebagai contoh, saat peristiwa ambalat. Saat itu masyarakat mengkonsumsi berita mengenai perseteruan antara Indonesia dan Malaysia yang memperembutkan Ambalat. Rakyat Indonesian disulut jiwa nasioanalismenya. Teriakan, “ganyang Malaysia, Malingshit” terdengar di forum-forum digital, media mainstream, bahkan media sosial. Tapi, ternyata dibarengi dengan kenaikan BBM hingga rakyat tersihir oleh rasa nasionalisme. Sebuah teknik propaganda “Metode Persuasif” berulangnya pesan media mengajak dan menyulut rasa nasionalisme pada saat itu.

Kembali lagi pada isu radikalisme saat ini. Yang kita lihat belakangan ini, ekonomi yang memburuk, harga sembako melambung, keran impor yang deras, hutang luar negeri membengkak, dibarengi dengan framing radikalisme musiman sebagai pengalihan. Teknik propaganda “Frustration or Scapegoat” putus asa dan mencari kambing hitam dengan terus memproduksi hantu semu bernama radikalisme. Mustahil ada kedamaian dan persatuan saat isu radikalisme dijadikan sebagak media transfer isu melalui teknik “Frustration or Scapegoat”

Saya pernah mengatakan dalam kicau saya di twitter dengan narasi,

Hantu itu bernama; intoleransi, radikal, anti bhineka. Hantu yang diciptakan golongan yang tak siap kalah, takut kalah, dalam sebuah kompetisi. Maka semua itu semu, persatuan juga semu. Ini negara atau panggung “Mortal Kombat”? Lantas siapa dibalik layarnya? Tiket laku terjual.

Berkata, “saya toleran, mereka itu tidak toleran” mana bisa disebut toleransi jika masih merasa eksklusif? Adalah hantu yang diciptakan sendiri, persatuan semu.

Narasi anti bhineka yang dikemas dengan pengakuan bhineka, “hantu” maka “persatuan semu”.

Hantu radikalisme yang diproduksi di media kemudian framing buzzer politik yang massiv adalah bagian dari teknik propaganda yang disebut “Name Calling“. Dalam teknik ini, propaganda memberikan label buruk kepada seseorang, lembaga, atau gagasan dengan simbol emosional (negatif) dalam propagandanya.

Yah, bermain stigma dengan mengandalkan produksi narasi dan framing pemberitaan lama adalah senjata bagi para buzzer politik di media sosial. Gelar “Radikal” akan disematkan pada kelompok, organisasi masyarat, yang dianggap berseberangan dengan Tuan besar yang dijilat oleh buzzer politik. Sedang skema media diatur oleh tangan-tangan balik layar yang memiliki akses kuat untuk mengatur ritme media. Sebuah hantu bernama radikal yang merupakan produk kecemasan untuk mengalihkan ketidakmampuan bahkan peta politik sebuah republik.

Monsterisasi Ulama

Akhir-akhir ini begitu banyak pemberitaan dari media trol yang sengaja mengangkat isu bahwa beberapa ulama adalah “anti NKRI” tentu dibarengi dengan stigma atau dalam teknik propaganda disebut “Name Calling”, anti pancasila. Sebuah monster yang diciptakan secara sistematis oleh media sekaligus buzzer politik yang mengidap “Islamophobia” dengan poin turunan “anti syariat”.

Memenggal video ceramah, mengutip tulisan dengan tujuan pembusukan karakter secara terus menerus hingga opini terbentuk dan dimainkan lagi oleh media, sebuah teknik “character assasination” yang ampuh. Namun lucunya, jika memang anti pancasila, anti NKRI mengapa pihak keamanan atau yang punya otoritas hukum tidak menangkapnya? Ini jelas hanya bentuk pembusukan karakter orang atau kelompok tertentu.

Dalam hal monsterisasi ulama ini, dikondisikan bahwa ketika sebuah nasihat dan ajaran islam dalam poin-poin penting seperti pembahasan ayat hukuman, bab jihad, tafsir dan studi pendapat ulama akan distigma sebagai anti pancasila. Padahal catatan perjalanan ulama dan islam erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan negara tercinta republik indonesia.

Monsterisasi ulama ini sama halnya dengan kasus demonologi islam, syariat islam, kemudian sang pembenci islam atau ulama akan membenturkan ulama satu dengan ulama yang lain, bermain stigma “calling name” negatif pada ulama-ulama. Kita tidak bisa pungkiri bahwa monsterisasi ulama erat kaitannya dengan kepentingan kelompok sekterian yang amat membenci ulama yang berpegang teguh pada Quran dan Sunnah. Maka semakin taat akan syariat, satu kelompok islamophobic akan gunakan narasi radikal, anti pancasila, anti bhineka. Dan kelompok satunya (sekterian), semakin seorang ulama berpegang teguh pada sunnah dan Quran maka akan distigma “Wahabi” radikal, dan sebagainya.

Demonologi yang erat kaitanya dengan monsterisasi ulama merupakan pola pembunuhan karakter, teknik calling name dalam propaganda, dan Fear Arousing (Membangkitkan Ketakutan).

Dalam kamus Inggris-Indonesia karya John M Echols dan Hassan Shandily, kata demon yang berarti (1) setan, iblis, jin, dan (2) orang yang keranjingan tentang sesuatu.

Sedangkan Istilah demonologi dapat kita temui pada Merriam Webster’s Collagiate Dictionary yang menyebutkan bahwa demonologi berarti (1) the study of demons or evil spirit (studi tentang setan atau semangat kejahatan), (2) belief in demons: a doctrine of evil spirit (kepercayaan kepada setan: doktrin tentang semangat kejahatan), (3) a catalog of enemy (daftar musuh).

Menarik apa yang dinyatakan oleh Noam Choamsky, bahwa demonologi merupakan perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.

Dalam teori komunikasi, “demonologi” dapat dikategorikan ke dalam wacana “labeling theory” (teori penjulukan). Dalam teori tersebut, korban-korban misinterpretasi ini tidak dapat menahan pengaruh dari proses penjulukan yang dilakukan dengan sedemikian hebat.

Demikianlah, 3 hal; Hantu radikalisme, monsterisasi ulama, dan pola demonologi yang saling berkaitan. Semua bagian dari teknik propaganda, produksi kecemasan, untuk menutupi kegagalan bahkan menciptakan super hero dadakan. Sekian. (*)

 

penulis adalah pemilik akun twitter @jackvardan

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *