Press "Enter" to skip to content

Guru Perlu Ada Jaminan Terhadap Perlindungan Hukum

Belitung Timur

Garuda-News.Id

Wakil Bupati (Wabup) Belitung Timur (Beltim) Burhanudin meminta Pengurus Daerah (PD) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Beltim agar menyusun draf MoU dengan forkopimda Beltim demi menjamin perlindungan terhadap guru.

“Burhanudin yang akrab disapa Aan, meminta kepada ketua PGRI Beltim untuk menyusun draf MoU dengan unsur forkopimda seperti kejaksaan, kepolisian, dan pengadilan sebagai turunan dari Peraturan Pemerintah tentang perlindungan hukum bagi para guru,” ungkap Aan pada saat menjadi narasumber dalam acara Seminar Nasional Pendidikan yang digagas oleh PGRI di Gedung Sidin Gantung, Rabu, (7/11).

Aan yang juga merupakan mantan guru mengatakan bahwa nantinya setelah penandatanganan MoU dengan forkopimda dilakukan dan pihak kepolisian mendapatkan aduan oleh orang tua murid maka tidak bisa semena-mena langsung diproses,” ujar Aan

“Jadi nantinya kepolisian kalau ada aduan dari orang tua murid, ada persoalan terhadap kode etik guru yang mengajar di dalam kelas, tetapi tidak melakukan kekerasan fisik itu tidak langsung semena-mena diproses secara hukum,” katanya.

Hal itu juga disampaikan oleh Tokoh Pendidikan Belitung yang fenomenal dalam Buku Laskar Pelang Ibu Muslimah mengajak kepada seluruh guru-guru yang hadir dalam Seminar Nasional Pendidikan untuk jangan sekali-sekali menyakiti murid baik fisik maupun batin,” jelas Muslimah

“Dalam buku laskar pelangi adalah merupakan contoh bahwa kita sebagai guru janganlah sekali-sekali menyakiti murid baik fisik maupun batinnya karena seumur hidup ia akan terkenang,

Muslimah yang merupakan mantan guru SD Muhammadiyah Gantung membeberkan bahwa saat ini masih terdapat guru yang belum punya wawasan dan kesabaran dalam menghadapi murid-muridnya,” tukas Muslimah

“Kenyataan di lapangan,” jelas muslimah masih ada guru yang belum punya wawasan, dan belum begitu sabar dalam menghadapi murid dan saya sering mendapatkan laporan bahwa ada guru yang menghukum muridnya dan membuat sekolah seolah sebagai penjara,” jelasnya.**

Niza karyadi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *