Press "Enter" to skip to content

Angka Pernikahan Dini Berbanding Lurus Dengan Perceraian

Belitung Timur

Garuda-News.Id

Bupati Beltim Yuslih Ihza saat memberikan pemaparan menyatakan tingginya angka pernikahan usia dini juga selaras dengan tingginya angka perceraian di Kabupaten Beltim. Ia menyebut jika pernikahan usia dini salah satu penyebab perceraian.

Hal ini disampaikan Bupati Yuslih saat acara Ikrar Peluhan Pelajar SMA dan SMK , menolak menikah diusia dini se-Belitung Timur

“Menurut Yuslih, Kurang baik. kalau menikah usia dini banyak negatifnya. Salah satunya tinggi resiko perceraian, makanya kalau angka pernikahan dini tinggi, angka perceraian pun ikut tinggi,” ujar Yuslih.

Banyak kasus perceraian diakibatkan karena masing-masing pasangan belum siap membina rumah tangga. Baik itu siap materi, jasmani maupun mental atau kedewasaannya berpikir.

“Namanya juga menikah usia dini, pemikirannya belum matang. Emosi lebih labih, belum ada kerjaan tetap hanya mengharapkan orang tua, belum siap mental,” kata Yuslih

Yuslih pun menekankan bahwa pernikahan seharusnya merupakan proses yang sakral, semuanya harus terencana dengan matang. Ia pun mengajak seluruh pelajar yang hadir untuk mengajak kawan-kawan di sekolah menghindari menikah di usai dini.

“Kepada anak-anak semua, tolong berikan virus kepada kawan-kawan di sekolah atau lingkungan rumah agar menolak menikah usia dini. Apa yang kalian ikrarkan hari ini harus ikut didengungkan ke kawan-kawan lain,” ujar Yuslih.

Dalam ikrar ada empat poin penting yang disepakati dan diikrarkan pelajar dalam aksi GenRe tersebut. Mereka bertekad tidak menikah di usia muda atau akan menikah di usia ideal yakni 21 tahun untuk wanita dan 25 tahun untuk laki-laki, menghindari seks bebas dan penyalahgunaan napza.

Selain itu juga mereka bertekad mempromosikan GenRe kepada seluruh masyarakat Indonesia, membantu program pemerintah membangun karakter remaja yang berintegritas, memiliki etos kerja dan gotong royong dan mereka siap menjadi contoh, model dan idola bagi teman remaja.**

Niza karyadi

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *